
Kesemua Barisan para Nabi dan Rosul, Mengemban Tugas yang sama yaitu mencontohkan jalan hidup yang lurus dalam mencapai Mardhotillah. Maka dakwah yang mereka serukan melingkupi semua segi dan sisi kehidupan. Perubahan yang terjadi pada setiap manusia yang menjadi mad'u (orang yang didakwahi) tentu saja dimulai dari proses perbaikan diri yang seketika menjadi individu-individu yang berakhlaq baik. Hingga bisa kita pastikan keseluruhan barisan pengikut para Nabi tidak pernah mendapat penolakan dari masyarakatnya mengenai akhlaq dan perilaku.
Kehendah Allah-lah yang menentukan jalan ini (Islam) dengan hukum dan ketentuan yang mengikatnya disemua sisi, untuk menghindarkan kita dari jurang perpecahan yang disebabkan perbedaan sudut pandang dan logika, sehingga Aturan dan perangkat hukumnya ditegakkan dan diperjuangkan mengikuti cara, pola dan metode yang ditetapkan-Nya juga.seperti Firman Allah:
Kehendah Allah-lah yang menentukan jalan ini (Islam) dengan hukum dan ketentuan yang mengikatnya disemua sisi, untuk menghindarkan kita dari jurang perpecahan yang disebabkan perbedaan sudut pandang dan logika, sehingga Aturan dan perangkat hukumnya ditegakkan dan diperjuangkan mengikuti cara, pola dan metode yang ditetapkan-Nya juga.seperti Firman Allah:
"Dan Kami telah turunkan kepadamu Al Qur'an dengan membawa kebenaran, membenarkan apa yang sebelumnya, yaitu kitab-kitab (yang diturunkan sebelumnya) dan batu ujian terhadap kitab-kitab yang lain itu; maka putuskanlah perkara mereka menurut apa yang Allah turunkan dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu mereka dengan meninggalkan kebenaran yang telah datang kepadamu. Untuk tiap-tiap umat di antara kamu, Kami berikan aturan dan jalan yang terang. Sekiranya Allah menghendaki, niscaya kamu dijadikan-Nya satu umat (saja), tetapi Allah hendak menguji kamu terhadap pemberian-Nya kepadamu, maka berlomba-lombalah berbuat kebajikan. Hanya kepada Allah-lah kembali kamu semuanya, lalu diberitahukan-Nya kepadamu apa yang telah kamu perselisihkan itu"QS. Al Maidah (5) : 48
Tetapi (dalam mengikuti Manhaj yang ditentukan Allah), ketika tahapannya telah sampai kepada merealisasikan masyarakat yang menerapkan Hukum Allah secara Kaffah (menyeluruh) yang tentu saja sudah Allah tentukan dengan menegakkan Kekuasaan (kepemimpinan), terjadilah penolakan dan permusuhan yang sengit. Hingga tidak jarang berakhir pertentangan secara fisik berupa pengusiran, dan peperangan serta pembunuhan. Kaidah Menegakkan kekuasaan ini secara samar Allah terangkan dalam:
"Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang makruf dan mencegah dari yang munkar; merekalah orang-orang yang beruntung."QS.Ali Imran (3):104.
Di Ayat ini Allah memerintahkan menyeru kepada kebajikan yang diteruskan oleh menyuruh kepada yang makruf dan mencegah dari yang munkar. Maka diperlukan adanya kekuasaan sehingga barisan islam berkapasitas memberlakukan sesuatu yang dapat menyuruh maupun mencegah (melarang).
Kemudian Allah berfirman:
"Ikutilah apa yang diturunkan kepadamu dari Tuhanmu dan janganlah kamu mengikuti pemimpin-pemimpin selain-Nya. Amat sedikitlah kamu mengambil pelajaran (daripadanya)."QS. Al A'rof (7):3
Secara jelas dan tegas, Allah mengarahkan barisan orang beriman buat hidup terpimpin oleh para Nabi dan Rosul dengan meninggalkan kepemimpinan selainnya.
Hal yang menyebabkan "pecahnya" permusuhan dan konfrontasi selalu saja disebabkan oleh "arogansi" penguasa yang sudah mengklaim bahwa "kepemilikan" akan kekuasaan yang ada adalah milik mereka, sebagaimana dijelaskan Allah:
"Dan Fir'aun berseru kepada kaumnya (seraya) berkata: "Hai kaumku, bukankah kerajaan Mesir ini kepunyaanku dan (bukankah) sungai-sungai ini mengalir di bawahku; maka apakah kamu tidak melihat (nya)?" QS. Az Zukhruf (43):51
Dari kesederhanaan gerakan, dan dimasanya Allah menentukan gerakan ini mengancam keberadaan kekuasaan yang ada, maka kita baru bisa memahami sebab-sebab yang melatarbelakangi terjadinya "Persengketaan" antara barisan orang beriman dengan penguasa-penguasa yang ada dan telah berkuasa sebelumnya.
Kekuasaan yang menjadi seteru dari barisan para Nabi dan Rosul ini, sepertinya memberikan ruang kearah tumbuh dan berkembangnya Agama-agama, termasuk Agama samawi, walaupun "kebebasan dan kelapangan ini bersarat, seperti firman Allah:
"Dan mereka berkata: "Jangan sekali-kali kamu meninggalkan (penyembahan) tuhan-tuhan kamu dan jangan pula sekali-kali kamu meninggalkan (penyembahan) wadd, dan jangan pula suwaa`, yaghuts, ya`uq dan nasr".QS.Nuh (71):23
Kebebasan bersarat inilah yang membuat tidak dapat diterapkannya Hukum Allah, seperti yang dialami oleh ummat yahudi maupun nasrani. Karena pada hakikatnya bila berbicara tentang hukum, maka telah dipastikan yang akan diterapkan hanyalah Hukum yang telah ditetapkan oleh para penguasa.
"Dan berkata Fir'aun: "Hai pembesar kaumku, aku tidak mengetahui tuhan (yang disembah dan dipatuhi) bagimu selain aku. Maka bakarlah hai Haman untukku tanah liat, kemudian buatkanlah untukku bangunan yang tinggi supaya aku dapat naik melihat Tuhan Musa, dan sesungguhnya aku benar-benar yakin bahwa dia termasuk orang-orang pendusta".